Sabtu, 15 Desember 2012

konstipasi pada ibu hamil


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan di mana seorang manusia (atau mungkin juga pada hewan) mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada penderitanya. Konstipasi yang cukup hebat disebut juga dengan obstipasi. Dan obstipasi yang cukup parah dapat menyebabkan kanker usus yang berakibat fatal bagi penderitanya.
Secara patofisiologi, konstipasi umumnya terjadi karena kelainan pada transit dalam kolon atau pada fungsi anorektal sebagai akibat dari gangguan motilitas primer, penggunaan obat-obat tertentu atau berkaitan dengan sejumlah besar penyakit sistemik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal.
Berdasarkan modifikasi dari Walker Smith dkk 1983, keadaan yang menyebabkan konstipasi antara lain :
1.      Faktor mekanik : makanan yang dimakan rendah serat, kadar karbohidrat dan protein tinggi atau mendapat susu formula yang berlebihan. Obstruksi mekanis juga menimbulkan konstipasi misalnya Lesi stenotik anorektal.
2.      Faktor neurogenik : Lesi medula spinalis, postganglionik, antikolinergik serta penyakit yang menimbulkan komplikasi terhadap kebiasaan buang air besar.
3.      Faktor muskuler : Atoni dan defek matabolik, hipokalemia dan masukan cairan kurang.
B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi Pada Kesehatan Reproduksi dan untuk menambah pengetahuan mahasiswa tantang diet ibu hamil konstipasi.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstipasi.
b.      Untuk mengetahui penyebab konstipasai pada kehamilan.
c.       Untuk mengetahui manifestasi klinis konstipasi.
d.      Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada konstipasi.
e.       Untuk mengetahui terapi konstipasi.
f.       Untuk mengetahui polamakan pada ibu hamil dengan konstipasi.




























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Konstipasi merupakan kelambatan perlintasan sisa makanan karena penumpukan feses yang keras dan kering disertai defekasi yang nyeri, distensi abdomen serta massa yang bisa diraba. Konstipasi merupakan suatu keluhan, bukan panyakit. Konstipasi sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai suatu keluhan terdapat vairasi yang berlainan antara individu. Konstipasi sering diartikan sebagi kurangnya frekuensi buang air besar (BAB), biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil – kecil dan keras, serta kadang kala disertai kesulitan sampai rasa sakit saat BAB.Batasan dari konstipasi klinis yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah besar feses memenuhi ampula rektum pada colok dubur, dan atau timbunan feses pada kolon, rektum, atau keduanya yang tampak pada foto polos perut.
B.     Patofisiologi
Dipengaruhi oleh diet, komposisi tinja, motilitas saluran cerna, dan obstruksi mekanis. Agar terjadi defekasi normal, anak harus merasakan tinja didalam rektum, kemudian diafragma dan otot abdomen akan berkontraksi. Spingter anus harus berelaksasi sebagai respon terhadap dorongan bolus tinja. Kelainan komponen-komponen yang mengatur defekasi normal akan menimbulkan konstipasi.
C.    Manifestasi Klinis
Mula timbul dan lamanya konstipasi :
1.      Konstipasi akut
Lamanya konstipasi : 1-4 minggu
Penyebab tersering : infeksi virus, obstruksi mekanis, dehidrasi, dan botulism infantil
2.      Konstipasi kronik
Lama konstipasi : lebih dari 1 bulan
Penyebab : biasanya fungional, penyakit Hirschsprung
3.      Pemeriksaan fisik
a.       Bentuk feses
b.      Adakah keterlambatan pertumbuhan, dihubungkan dengan penyebab organik atau hipertiroidisme
c.       Pemeriksaan neurologis umum, dihubungkan dengan adanya inervasi sfingter ani atau striktur
d.      Adakah distensi abdomen, prominen pada Hirschsprung atau konstipasi fungsional yang lama
e.       Pemeriksaan rektal dapat ditemukan lesi stenosis atau dugaan Hirschsprung berupa rektum yang kosong dan pendek dan bila jari-jari dikeluarkan keluar gush yang tipik dari cairan dan gas. Pada konstipasi fungsional dapat diraba massa feses dibawah sfingter ani. Perhatikan adanya fissura in-ano atau lesi perianal lain.
D.    Penyebab Konstipasi Pada Kehamilan
1.       Penekanan langsung pada usus oleh uterus dan janin
2.      Berkurangya atau berubahnya asupan makanan dan cairan
3.      Berkurangnya olah raga dan aktifitas fisik
4.      Relaksasi otot polos usus yang ditimbulkan oleh hormon karena :
a.       Peningkatan progesteron
b.      Penurunan produksi motilin oleh dinding usus
c.       Peningkatan enteroglukagon yang diproduksi oleh dinding usus
d.      Impaksi fekal lebih cenderung terjadi pada kehamilan karena air dan garam diserap dengan jumlah yang lebih besar dalam kolon akibat :
1)      Peningkatan waktu transit yang disebabkan oleh relaksasi otot polos usus
2)      Kerja prolaktin
3)      Aktifasi poros renin- angiotensin-aldosteron (glosarium) pada kehamilan dan peningkatan absorpsi garam serta air
E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan laboratorium : urin lengkap (terutama pada konstipasi kronik), dan pemeriksaan kmungkinan kearah penyakit spesifik seperti hipotiroid, dan hiperkalsemi.
2.      Barium enema, pada dugaan adanya lesi obstruksi distal.
3.      Manometri rektal, perlu untuk diagnosis Hirschsprung atau ultra short segment namun positif.
4.      Biopsi, pada Hirschsprung dapat ditemukan tidak adanya sel-sel ganglion, aktifitas kolinesterase meningkat.
F.     Terapi
1.      Aktivitas dan olahraga teratur
2.      Asupan cairan dan serat (25 – 30 gram/hari) yang cukup
3.      Latihan usus besar; penderita dianjurkan mengadakan waktu secara teratur tiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya. Dianjurkan waktu ini adalah 5 – 10 menit setelah makan, sehingga dapat memanfaatkan refleks gastro-kolon untuk BAB. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita tanggap terhadap tanda – tanda dan rangsangan untuk BAB, dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk BAB ini.
4.      Jika modifikasi perilaku kurang berhasil, ditambahkan terapi farmakologi, dan biasanya dipakai obat – obatan golongan pencahar.
Ada 4 tipe golongan obat pencahar:
1.      Memperbesar dan melunakan massa fesef anatara lain:
a.       cereal
b.      methy selulos
c.       psilium
2.      Melunakan dan melincinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air.contohnya antara lain:
a.       minyak kastor
b.      golongan docusate
c.       Golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain:
1)      Sorbitol
2)      Lactulose
3)      Glycerin
4)      Merangsang peristaltik, sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang banyak dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bila dipakai untuk jangka panjang, dapat merusak pleksus mesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. Contohnya, Bisakodil dan Fenolptalein
d.      Dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan cara – cara tersebut diatas, mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan. Pada umumnya, bila tidak dijumpai sumbatan karena massa atau adanya volvulus, tidak dilakukan tindakan pembedahan.
G.    Pola Makan
1.      Minum air yang cukup
Air 8 gelas sehari. Karena anda membutuhkan cairan yang cukup bagi anda dan juga bayi. Cairan dibutuhkan untuk membangun sel darah merah dan sirkulasi, serta mengatur suhu tubuh. Cairan diperlukan tubuh untuk mengatasi konstipasi.
2.      Makan makanan berserat, buah-buahan dan sayuran
Perbanyaklah makan makanan yang berserat tinggi, buah-buahan dan sayuran dapat membantu mengatasi konstipasi selama kehamilan.
3.      Kebutuhan energi dan protein
Kondisi kehamilan memang akan menyebabkan kebutuhan energi dan protein yang bertambah. Namun hal tersebut bukan berarti mentolerir seorang bumil dapat makan sebanyak banyaknya dengan alasan “makan untuk dua orang”. Penambahan energi yang direkomendasikan hingga masa akhir kehamilan berdasarkan hasil penelitian terbaru di bidang maternal tak lainnya hanya sebesar 85.000 kcal. Kcal sebesar 85 ribu ini pun telah mencakup energi yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, supply energi untuk jaringan baru, simpanan dalam bentuk lemak serta 10% energi yang hilang untuk metabolisme tubuh.
Dengan memperhitungkan masa kehamilan yang hanya 280 hari, rata rata penambahan kalori yang sebenarnya dibutuhkan oleh bumil hanya sebesar 300 kcal (85.000/280). Jumlah ekstra kalori tersebut tak lebih dari pengkonsumsian sebuah joghurt 250-300 gr dengan kadar lemak 3,5%!. Itupun sebenarnya ekstra kalori benar benar dibutuhkan khususnya sejak 5 bulan kehamilan. Penambahan kebutuhan protein sebenarnya hanya sebesar 0,9-1,0 gr per kg BB per hari. Meningkatkan konsumsi sumber protein sebanyak mungkin dengan alasan “hamil” juga sebenarnya bukan merupakan tindakan bijaksana. Jumlah protein yang ditambah sendiri biasanya hanya dianjurkan bila asupan energi juga cukup. Bila kondisi tersebut tidak dipenuhi, asam amino akan digunakan terlebih dahulu untuk produksi energi.
4.      Kebutuhan Mikronutrisi Asam Folat dan Vitamin A
Tambahan asupan mikronutrisi juga dibutuhkan selama masa kehamilan. Asam folat, Vitamin A, Sodium, Kalsium, Magnesium, Besi, Yodium adalah beberapa mikronutrisi yang penting dicatat di masa ini.
Asam folat amat dibutuhkan saat terjadinya penambahan jumlah sel di masa awal kehamilan. Kekurangan asam folat biasanya akan dikaitkan dengan tingginya risiko si bayi mengalami “neural tube defects”, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan lahir prematur. Vitamin A dalam bentuk retinol berkontribusi terhadap kualitas pengelihatan si kecil. Pada daerah dengan masalah defisiensi vitamin A, transfer aktif vitamin A ke fetus akan tetap terjadi walau sang ibu memiliki serum-vitamin A yang rendah dalam darahnya. Bahkan di tri semester tiga kehamilan, fetus akan mulai menimbun vitamin A dalam organ hatinya. Kolostrum yang ibu produksi setelah melahirkan si kecil merupakan sumber makanan yang kaya akan vitamin A. Namun perlu diperhatikan bahwa seorang ibu yang mengalami defisiensi vitamin A tidak akan memiliki kuantitas transfer vitamin A yang cukup melalui plasenta dan ASI. Ibu menyusui yang berada di daerah endemik defisiensi vitamin A harus mendapatkan supplementasi vitamin A (200.000 IU) selama masa 8 minggu pertama setelah melahirkan. Supplementasi vitamin A ini tidak boleh dilakukan saat si ibu hamil mengingat adanya efek teratogenik yang diamati pada pemberian dosis tinggi vitamin A pada masa kehamilan.
Kebutuhan Sodium, Kalsium, Magnesium. Pengkonsumsian sodium dan kalsium dengan jumlah “sedang” juga diperlukan. Kalsium berperan penting dalam mekanisme pengaturan selama masa kehamilan dan menyusui. Ia juga akan meningkatkan absorbsi intestinal yang terjadi. Biasanya, setelah masa 6-12 bulan sang ibu melewati masa menyusui, depot kalsium di tubuhnya akan kembali terisi. Seorang bumil yang mengkonsumsi kalsium minimal 1000 mg Ca/hari akan kecil memiliki risiko terkena PIH (Pregnancy Induced Hypertension). Kekurangan magnesium biasanya dialami oleh 5-30% bumil dengan ditandai adanya keluhan kram (Nocturnal Systremma). Suplementasi secara oral dari mikronutrisi ini terbukti akan mengurangi keluhan kram pada ibu yang sedang mengandung.
5.      Kebutuhan Besi dan Iodium
Besi juga merupakan mikronutrisi yang amat diperlukan dalam masa kehamilan. Anemia saat kehamilan biasanya akan mempertinggi risiko terjadinya BBLR pada bayi, tingginya insidens kelahiran prematur dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian pada ibu saat melahirkan. Perlu diingat, anemia tidak selalu disebabkan karena kekurangan besi dalam darah. Kebanyakan wanita menderita anemia yang disebabkan oleh kombinasi kekurangan besi, asam folat, vitamin B12 dan vitamin A.
Kekurangan iodium saat masa kehamilan sedapat mungkin harus dihindari. Seorang bumil idealnya harus memiliki persediaan iodium yang mencukupi agar transfer iodium ke fetus yang dikandungnya dapat mencukupi. Asupan iodium yang kurang dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan otak fetus, BBLR, kretin dan kongenital yang abnormal. Mengingat pentingnya fungsi iodium dalam masa ini, bumil dianjurkan untuk mengkonsumsi produk produk fortifikasi iodium seperti garam ber-iodium dan minyak ber-iodium.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Konstipasi merupakan kelambatan perlintasan sisa makanan karena penumpukan feses yang keras dan kering disertai defekasi yang nyeri, distensi abdomen serta massa yang bisa diraba.
2.      Tujuan diet konstipasi adalah mencapai dan mempertahankan status gizi yang normal sehingga diharapkan pembuangan feses khususnya pada ibu hamil dengan dapat berjalan dengan lancar dan tidak mempengaruhi keshatan baik ibu maupun janin yang dikandungnya.
B.     Saran
1.      Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan bagi ibu hamil mengenai dampak yang dapat terjadi dari komplikasi pada masa kehamilan.
2.      Bagi ibu hamil agar rajin dan memeriksakan kehamilannya secara rutin (setidaknya 1 kali setiap bulannya) dengan harapan dapat mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan
3.      Ibu hamil sebaiknya selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi selama kehamilanya agar terhindar dari bahaya komplikasi kehamilan.
4.      Sebaiknya ibu hamil segera menghubungi tenaga kesehatan terdekat jika terjadi tanda-tanda komplikasi kehamilan agar dapat segera memperoleh penanganan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar